Jeda
Beristirahatlah sejenak, kita sudah terlalu penat menanggung beban demi masa depan yang tiada kunjung tercapai.
Lelah demi lelah hanya dibasuh dengan sebuah harap "semoga hari esok lebih baik lagi" terus seperti itu.
Beristirahatlah sejenak, rehatkan kakimu yang setiap hari melalui jalan terjal demi menyambung kehidupan hari esok. Terlampau sering kau hentakan kakimu pada tanah gersang dan aspal yang panas itu.
Beristirahatlah sejenak, lemaskan bahu yang selalu kau tahan untuk merebah. Pejamkan matamu untuk tidur yang lebih lelap dari biasanya.
Kita tahu, hidup menjadi lebih berat. Alih-alih semakin mudah, tantangan baru datang ketika masalah sebelumnya belum terselesaikan
Namun kita harus yakin, bahwa Tuhan tidak pernah tidur.
Ia mendengar semua doa dan harapan yang selalu kau ucap di sela-sela dahaga dan keringat yang tiada henti menetes.
Beristirahatlah sejenak, ambil sebuah jeda.
Susun dan rapihkan kembali cita-citamu, barangkali selama ini kau menempuh cara yang kurang tepat.
Ingat kembali untuk apa tujuanmu berjuang selama ini.
Apa untuk masa depanmu? Keluargamu? Atau hanya untuk menuruti hasrat hidup yang standarnya sudah ditentukan oleh orang-orang.
Kita harus ingat, bahwa kita tak akan bisa memuaskan keinginan semua orang yang segala sesuatunya mesti tercapai dalam patokan usia tertentu. Tentukanlah sendiri pilihan untuk hidupmu dan bersungguh-sungguhlah menjalaninya.
Kini istirahatlah, sejenak saja
Lebih lapangkan lagi hatimu untuk bersiap menerima tekanan yang lebih besar di perjalanan selanjutnya, menerima saran yang lebih banyak hingga kritik yang lebih pedas. Lalu tanggapilah dengan bijak, sebab segala kritik dan saran bukan berarti ingin menghancurkanmu melainkan membantumu tumbuh untuk mencapai kemampuan terbaikmu.
Istirahatlah, sudahi pikiran berlebihanmu yang saban hari semakin membuatmu takut menyambut hari esok, percayalah, hari yang lebih cerah telah siap menyambut.
Dengarkan Audio
