Menata Hati
Setelah berbagai kegagalan, rasa sakit hati serta orang yang datang dan pergi silih berganti dalam hidup, entah itu teman, sahabat yang begitu dekat, hingga pasangan.
Rasanya aku perlu diam sejenak, memperbaiki diri, menata hati untuk tidak terlalu larut pada setiap kepergian dan mampu tetap baik-baik saja ketika hal itu kembali terjadi.
Barangkali akan aku mulai dengan membereskan hati yang berantakan, sudah lama riuh gemuruh menerpa labirin yang berkelok-kelok di dalamnya, entah kapan terkahir kali ditata.
Mungkin pada tiap dindingnya akan kembali dihias dengan pernak-pernik rasa yang beraenaka rupa warnanya.
Dalam lemari kenangan, berbagai kisah akan kulipat dan disimpan secara susun-bersusun. Dari warna yang paling cerah hingga warna yang telah memudar.
Pada rak yang berderet catatan kelam dan kegagalan, kan kusimpan figura berupa harap untuk pertanda bahwa segala kisah akhirnya akan mengandung kasih.
Di dasar hati, akan kubersihkan sisa jejak langkah yang pernah mengajak berjalan bersama namun akhirnya meninggalkanku sendiri dalam senyap.
Pada relung hati, aku simpan lentera warna jingga, supaya pijarnya kelak menyertai langkahmu dan kau tidak berjalan sendiri dalam gelap.
Di lubuk hati, aku siapkan ruang kosong untuk satu nama terukir di dalamnya untuk aku jaga dengan sebaik-baiknya.
Pada pintu hati, aku hias dengan sebaris sajak indah untuk menyambutmu agar tak sungkan untuk mengetuknya.
Telah aku rekatkan kembali hati yang patah dan hancur berkeping-keping, walau belum pulih seutuhnya, setidaknya aku telah siap menyambut kisah yang baru.
Mengenai ego, aku sudah belajar untuk meredamnya, agar segala kejadian tidak aku tanggapi dengan amarah dan keras kepala.
Setelah sudah kupastikan rapi seluruhnya, maka segeralah singgah. Dan kita akan merajut kisah bersama.
