Penantian Sang Puan
Kali ini akan kuceritakan kisah tentang sang puan yang tiada henti menanti sang kekasih untuk kembali pulang dan tentang betapa penantian tidak selalu berujung indah
Pada sebuah petang, manakala lembayung berwarna redup, hati sang puan menanti penuh degup, ketibaan kekasih yang sudah lama melanglang jauh, untuk sebuah tujuan mulia, yaitu mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar segera dapat menyunting sang puan dan untuk kehidupan yang layak di masa mendatang.
Pada tiap petang di beranda rumahnya, sang puan bersandar pada setianya yang utuh.
Walaupun ia tahu belum tiba saatnya sang kekasih untuk pulang, ia tetap menanti di setiap petang menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka berdua hingga menyirami bunga pemberian sang kekasih yang tertanam di pelataran rumahnya.
Di kejauhan temaram resahnya urung mereda, tahun demi tahun berlalu. Tentu saja banyak suara sumbang yang mencoba menggoyahkan setianya, seperti; untuk apa menanti yang belum pasti? Apa orang yang kau nanti juga sama menjaga hatinya disana? Bagaimana jika tanpa kau tahu perasaannya untukmu sudah hilang?
Tentu saja, sang puan hiraukan setiap suara yang mencoba memengaruhinya dan hatinya urung untuk goyah. Saban petang telinganya hanya dengarkan tiap suara langkah di depan beranda, barangkali telah tiba saatnya sang kekasih untuk pulang.
Konon cinta membuatnya lemah, sebab rindu membelenggu dan membuatnya gergerak tak leluasa.
Walaupun sudah ia tutup rapat hati untuk laki-laki lain yang mencoba singgah dan merenggut hatinya.
Meski terkadang dalam rapuh, ingin ia akhiri ikatan yang kadang kala membuat jenuh. Namun sekali lagi setia membuatnya percaya begitu penuh
Setelah sekian petang, tiba waktunya hari yang dijanjikan sang kekasih untuk pulang. Begitu riang sang puan sebab penantiannya akan segera berakhir, dikenakannya pakaian berwarna hijau tosca dengan corak abu tua, baju kesayangannya, sebab sang kekasih pernah mengatakan bahwa ia terlihat begitu indah ketika mengenakan pakaian tersebut.
Pada hari yang dijanjikan, sang kekasih tak kunjung datang.
"Apakah ia lupa?" Tanya sang puan dalam hati.
Rona merah di pipinya mulai memudar seiring luruh air matanya, ia berusaha tegar dan mencoba berbaik sangka, barangkali ada keterlambatan dalam kepulangannya.
Pada hari yang sama di minggu berikutnya, kembali ia menanti namun sang kekasih tak jua kembali. Satu minggu berikutnya masih sama, minggu berikutnya pun masih demikian. Hingga satu bulan, dua bulan berlalu begitu saja.
Hatinya mulai ragu, mungkin benar kata orang-orang di sekitarnya selama ini, bahwa ia hanya menanti seorang diri.
Dengan segala kecewa dan hati yang begitu hancur, sang puan memutuskan untuk menutup segala harap dan pintu yang sedari lama selalu terbuka, ia sadar penantiannya tak menghasilkan apa-apa.
Tidak lagi ia duduk di beranda rumah pada tiap petang, tidak lagi ia sirami bunga pemberian sang kekasih yang perlahan mulai layu, tidak lagi ia menyanyikan lagu-lagu kesukaannya, sebaliknya, kini ia benci lagu-lagu tersebut.
Pada suatu hari pukul enam petang, terdengar bunyi suara pintu yang diketuk, sang kekasih akhirnya pulang
Namun sayang, sang puan menutup kembali pintu tersebut karena hatinya sudah tidak lagi disana.
Dengarkan audio
