Satu Tahun Berlalu
Sudah satu tahun berlalu, sejak kehidupan tidak berlangsung baik-baik saja, penuh cemas, khawatir, penuh rasa takut, banyak kehilangan dialami oleh sebagian orang hingga hari ini keadaan masih belum pulih seutuhnya.
Sudah satu tahun berlalu, kita menjalani berbagai kebiasaan baru, mulai dari segala sesuatu yang dilakukan dari rumah, bercengkrama yang hanya dapat dilakukan lewat layar kaca, saling jaga jarak untuk menjaga satu dengan yang lainnya, hingga sebuah pertemuan menjadi sesuatu yang asing sudah setahun belakangan ini.
Begitu banyak kepergian dan kehilangan terjadi dalam hidup beberapa tahun terakhir ini. Penyakit mewabah yang membuat cemas seluruh dunia dan merenggut orang-orang di sekitar kita, memaksa kita untuk hidup saling berjauhan dan menjaga satu sama lain.
Baru dalam kurun satu tahun belakangan, semuanya mulai membaik, roda kehidupan berjalan pada alur yang semestinya, namun tidak untukku, kehilangan terus berlanjut, terakhir yang aku alami adalah kehilangan karena kepergianmu.
Pada satu tahun yang lalu, kau memutuskan untuk menjalin ikatan suci dengan laki-laki pilihanmu.
Pada saat itu pula sudah berlalu satu tahun sejak perbincangan terakhir kita.
Kau mengantarkan undangan acara pernikahanmu yang sakral. "Datang yah, jangan lupa ajak pasangannya." Ucapmu kala itu seraya berjalan pergi meninggalkanku yang tengah larut mengingat segala mimpi yang pernah aku usahakan bersamamu, kemudian memudar seiring langkahmu yang beranjak pergi pada sebuah siang yang begitu cerah.
Sudah satu tahun berlalu sejak berbagai pesan semoga aku kirimkan dan masih mengendap tak berbalas di arsip pesan Whatsapp.
Padahal, semestinya aku tak harus melakukan itu. Sebab mungkin kau tak mengharapkan doa dariku. Doa dari seseorang yang pada masa lalu lebih memilih memegang teguh egonya dari pada mendiskusikan yang terbaik untuk hubungan kita berdua, sehingga membuatmu memutuskan untuk pergi dan mencari orang yang bisa lebih memahamimu secara utuh.
Masih dengan sudut pandang ego, aku berkelakar bahwa kau yang pergi meninggalkanku, kau yang secara sepihak memutuskan hubungan kita yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya, tanpa melihat sudut pandang lain bahwa penyebab kepergianmu adalah keegoisanku.
Sudah satu tahun berlalu sejak hari dimana ketika aku datang ke acara pernikahanmu, kau tengah berdiri di pelaminan dengan nuansa warna ungu; salah satu warna yang menjadi kesukaanmu sejak dulu kala, berpadu padan dengan warna abu tua berhias aneka rupa kembang di belakang tempatmu berdiri yang terlihat begitu cocok dengan gaun putih dan posturmu yang cukup tinggi.
Sial, lelaki yang berdiri di sebelahmu, terlihat begitu serasi denganmu, sangat begitu serasi ketika beberapa instrumen lagu-lagu romantis mengiringi setiap pose demi pose potret mesramu.
Sudah satu tahun berlalu, sejak aku memutuskan untuk melepaskanmu penuh ikhlas. Benar kata orang, mendatangi pernikahan salah satu orang di kehidupan masa lalu akan membuat kita ikhlas begitu saja tanpa harus dipaksakan untuk melupa. Ada napas yang ditarik begitu panjang kemudian perasaan lega menyertai setelahnya.
Pada saat itu aku sadar, bahwa sekeras apapun aku mengharapmu kembali atau berjuang untukmu seperti dulu, tak akan pernah membawamu kembali jika tujuan akhirmu sudah bukan aku.
Sudah satu tahun berlalu, sejak kau menempuh peran baru. Aku menganggap itu sebagai cara berpamitan terbaik yang bisa kamu sampaikan. Dan kehadiranku adalah cara terbaik juga sebagai pertanda bahwa aku sudah rela melepas kepergianmu tanpa harus menyakiti hati siapa pun.
Pada akhirnya, kita sama-sama menyadari bahwa tak peduli siapa yang menjadi cinta pertamamu, tak peduli seberapa lama hubungan terjalin, tak peduli seberapa banyak mimpi-mimpi direncanakan bersama, jika tuhan tidak menggariskan hidupmu untuk terjalin bersamaku, aku tak akan bisa memaksakan apa-apa lagi. Namun, doa terbaik telah terhatur untuk kelangsungan hidupmu selanjutnya.
Aku mungkin telah kehilangan mimpi yang telah aku susun, namun aku percaya ketika hati sudah mampu berdamai dengan masa lalu, akan hadir berbagai kisah indah di masa mendatang tanpa harus menyesali segala hal yang telah terjadi di hari yang lalu.
Jika kelak, suatu hari kita berjumpa kembali, aku yakin kau tengah berbahagia. Aku hanya ingin kau tahu bahwa sungguh, sepenuhnya, hatiku telah rela.
Dengarkan audio
