Sebuah Ingin
Keinginan selalu menjadikan seseorang menjadi lebih semangat atau sebaliknya menjadikannya begitu rapuh ketika ia tak mampu menggapainya.
Sebuah ingin yang sudah terwujud juga menjadikan manusia satu versi yang lain dari dirinya sendiri, entah itu semakin lebih kuat atau malah menjadikannya lemah karena terlena dan sibuk menikmati ingin yang tercipta untuk sementara saja.
Meskipun sebuah ingin yang kita anggap baik, belum tentu sama baiknya untuk yang lain. Termasuk tentang kita.
Bertahun semenjak keinginanmu untuk memutuskan pergi, ada sebuah ingin yang aku korbankan dan tidak kupertahankan dengan sepenuh hati; yaitu tetap bersamamu.
Seiring waktu, keinginanku tumbuh dan berubah menjadi suatu hal yang menurutku paling baik untuk kelangsungan hidup selanjutnya, setelah berbagai diam yang kau tunjukkan, berbagai maaf yang tak bersambut serta berderet pesan yang tiada pernah berbalas, kini inginku semakin kuat, yaitu merelakanmu seutuhnya. Tersadar bahwa kenyataannya, bahagia yang kau ingin tak tertulis untuk diberikan olehku, betapa pun keras aku mencoba tak akan bisa membuatmu luluh atau membuka hati yang lapang untuk aku isi sepenuhnya. Sebab, hatimu telah teguh memilih satu hati yang lain, yang telah membuatmu utuh. Keinginanku merelakanmu adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan untukmu, untuk yang terakhir kalinya.
Namun keinginanku belum terwujud hingga hari ini, kendati hari-hari berganti, kendati potretmu bersama pemilik hatimu kerap singgah di tiap beranda sosial media, lantas tak membuatku begitu saja bisa merelakanmu. Ada hati yang ringkih yang meminta untuk sekejap saja bercengkrama dengamu, menghaturkan maaf, mengucapkan selamat, menatap sayu matamu yang selalu membuat degup jantung berdebar lebih keras dari biasanya.
“Kau sudah bahagia.” Lirih hati, tatkala sekilas menatap potretmu yang serentak seolah menjadi mesin waktu yang membawaku pada masa-masa ketika berada di sampingmu. Namun tersadar, bahwa mengharapkanmu kembali adalah sebuah ingin yang sangat tidak mungkin untuk aku wujudkan.
Kini, masing-masing dari kita telah menentukan cara bahagianya, kau bersamanya dan aku yang mencoba merelakanmu. Barangkali saat ini, hal itulah yang bisa membuatku bahagia, terlepas dari segala tentangmu, berhenti mengharapkanmu dalam diam, hingga mengikhlaskanmu tanpa paksaan. Mungkin akan memerlukan waktu yang begitu lama, tapi aku percaya bahwa aku bisa.
Terima kasih atas segala kesan yang telah kau beri, meski sementara, namun akan terukir sebagai pelajaran yang berarti ketika aku bisa mengikhlaskanmu.
Baik-baiklah disana, jaga hati yang selalu setia menjagamu, melindungimu dari orang-orang sepertiku yang kerap mengganggumu.
Sekiranya, apabila terima kasih yang kuhaturkan tak bisa kau terima. Maka sekali lagi izinkan aku memohon maaf, atas kelancanganku karena telah melibatkanmu selama ini dalam doa.
Semoga kita menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing, semoga segala ingin yang kita harapkan akan membawa kita tumbuh ke tahap tersebut.
Sampai berjumpa kembali, ketika aku sudah rela.
