Setelah Dewasa
Hai berapa usiamu?
Delapan belas tahun? Dua puluh tahun? Dua puluh lima? Atau lebih dari itu?
Berapa pun usiamu, jika itu termasuk angka usia dewasa, mungkin kau akan setuju denganku, bahwa jadi dewasa itu tidak menyenangkan bukan?
Ternyata bayangan ketika kanak-kanak yang ingin segera menjadi dewasa tidak seindah yang dibayangkan pada awalnya.
Setelah dewasa kita dituntut untuk menjadi seseorang yang bijaksana yang harus selalu siap menghadapi masalah apapun sendirian dan bersikap seolah sedang tidak menanggung beban apapun.
Setelah dewasa kita harus menentukan keputusan seorang diri tanpa memiliki kepastian keputusan yang diambil benar atau salah. Jika benar, beruntunglah kita. Namun jika salah, kita hanya mendapat pelajaran dan harus bersiap menanggung beban yang mungkin lebih besar lagi pada esok hari.
Setelah melalui berbagai hal hingga berada di titik saat ini, setelah melalui berbagai suka duka, menorehkan banyak cerita, berhasil menyelesaikan masalah yang datang bertubi-tubi, aku kira kedepannya aku akan lebih siap untuk menghadapi hidup sebagai orang dewasa.
Nyatanya aku salah, seiring bertambahnya usia, tuntutan hidup, tanggung jawab dan beban yang ditanggung malah semakin bertambah banyak.
Entah itu tuntutan untuk hidup mapan, berhasil dalam pendidikan, sukses di dunia kerja, hingga ekspektasi orang tua yang teramat sangat tinggi.
Bukan aku tidak ingin mengabulkan semua itu, sebab aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Tapi hidup tidak selalu berjalan berdasarkan apa yang kita inginkan, hidup memiliki alurnya sendiri dan kita harus selalu berjalan dan memilih setiap persimpangan yang ada.
Kemudian, setelah dewasa, kita tidak bisa menahan orang lain untuk menilai apapun tentang kita atau memandang kita seperti apa. Mereka akan berbicara sesuka hati di belakang kita, tentang hal baik ataupun buruk.
Jika sudah merasa lelah menjalani hidup sebagai orang dewasa, ingin rasanya kembali pada masa-masa menjadi kanak-kanak.
Dahulu kala, hidup selalu menyenangkan, tanpa beban yang pada umumnya dipikul semua orang dewasa.
Diharuskan pulang pada sore hari ketika sedang asyik bermain; adalah hal yang paling berat untuk dikabulkan.
Tapi hati tak pernah berburuk sangka perihal apa yang akan terjadi pada keesokan harinya, tak peduli akan dijahili teman, kalah bermain sepak bola, bermain kasti, lompat tali, menjadi langganan yang jaga ketika petak umpet, dimarahi ketika hujanan, jatuh di lumpur, atau pun merengek ketika keinginannya belum dikabulkan. Tak banyak hal yang dipikirkan selain pekerjaan rumah dari sekolah yang baru dikerjakan ketika menjelang tidur.
Seiring dewasa, disadari atau tidak, kita berinteraksi dengan teman yang semakin sedikit. Entah mereka yang sudah tidak ingin berinteraksi dengan kita atau pun mereka yang juga sedang sibuk menanggung segala tanggung jawab sebagai orang dewasa hingga tak memiliki waktu untuk bercengkrama seperti sedia kala.
Belum lagi soal cinta, setelah dewasa, setelah melalui beberapa kisah yang cukup pelik, menerima rasa sakit hati.
Cinta menjadi sesuatu yang begitu sensitif seiring bertambahnya usia, sehingga tidak ingin lagi dengan mudah membagi perasaan pada orang baru agar tidak mengalami rasa sakit yang serupa.
Begitu banyak luka, kecewa, tangis dan air mata dalam segala proses pendewasaan. Tapi jika diingat kembali, banyak juga pelajaran yang didapat hingga aku bisa bertahan hingga hari ini dan menjadi orang dewasa, walau belum bisa bijaksana untuk segalanya.
Setiap hari adalah hari yang baru, meski aku tidak selalu siap untuk menghadapi setiap harinya dan menghadapi hidup yang tidak akan selalu bersikap ramah. Aku akan terus belajar dan melakukan yang terbaik.
Dan kamu, kita, orang-orang sedang tumbuh dewasa juga harus melakukan hal serupa, optimis untuk hari-hari berikutnya.
Tidak apa-apa, jika ada hari yang berlangsung tidak baik, karena akan selalu ada pelajaran yang diambil.
Setelah dewasa, kita hanya perlu menjalani hari demi hari dan menjadi diri kita sendiri. Dengarkan Audio
