Penantian
Sore ini, aku kembali rindu. Ketika mentari yang kutatap lewat jendela membiaskan cahayanya yang keemasan, seekor kucing yang memiliki corak persis warna jingga sedang memejamkan matanya di beranda rumah saat aku mereguk secangkir teh panas yang menemani di sebelah tuts keyboard saat aku menulis ini.
Entah sudah rindu ke berapa di tahun kesekian semenjak engkau pergi dan kuputuskan untuk menanti. Walaupun tak pernah ada kepastian apakah kau akan kembali dari kepergianmu atau tidak.
Sebab sejak awal, aku sudah sadar bahwa menantimu adalah hal bias yang tak akan pernah menjadi jelas hingga kapan pun, hingga aku menanti selama apapun.
Namun, penantian tak pernah memiliki batas waktu, bukankah kau pun tahu perihal itu? Tak peduli seberapa lama seseorang menanti, tak peduli begitu banyak waktu sia-sia berlalu. Sebab, hanya rasa bosan dan keinginan untuk menyerah yang bisa menggugurkan penantian.
Aku hanya ingin menguji kesetiaan, yang pada belakangan ini begitu banyak orang sudah tidak percaya lagi arti sebuah setia.
Menanti bukan berarti sudah pasti akan berbuah sesuatu yang diharapkan, sebab seringkali penantian membuahkan rasa kecewa yang begitu mendalam. Namun, memutuskan untuk menanti berarti telah sepenuhnya siap menerima segala kemungkinan terburuknya, dan hatiku telah siap seutuhnya.
Menantimu kembali memaksa hati untuk rela menerima segala kenyataannya, sekali pun pada penghujung penantiannya aku tidak akan mendapatkan apa yang kuharapkan, walaupun pada akhirnya yang kudapati adalah kabar tentang kau yang telah berbahagia dengan orang lain, sungguh, tak apa, aku hanya ingin memastikan bahwa penantianku telah selesai dan aku rela untuk segala hal tentangmu.
Selalu ada akhir temu dalam sebuah penantian, entah itu pertemuan yang mengawali penantian atau pertemuan di ujung penantian yang berakhir indah, atau bahkan pertemuan sesaat di akhir penantian yang membuat kita tak bisa lagi menanti untuk bertemu. Penantian dan pertemuan adalah kontinuitas yang terjadi berulang-ulang.
Kita tak bisa memaksa ketentuan yang telah ditetapkan, aku yang begitu lama menanti bukan berarti berhak untukmu. Sebab hatimu lebih berhak memilih kebahagian untuk sisa waktu yang akan datang.
Setidaknya detik yang telah kuhabiskan untuk menantimu perlahan akan menyadarkanku tentang sebuah sabar, tentang menerima getir dari perasaan yang saling meniadakan, tentang sebuah sadar atas kesalahanku yang beberapa kali melewatkanmu dahula kala, meski diantaranya tak kau beri celah hatimu untuk terbuka. Namun, itu tetap salahku dan menyesalinya kini tak akan mengubah apapun.
Dalam beberapa penantian, buahnya adalah kecewa.
Pada akhirnya menanti hal yang sama akan berbuah hal yang berbeda dengan kurun waktu yang berbeda pula. Dan aku sadar, tak peduli seberapa lama aku menanti jika akhirnya hatimu memilih orang yang baru menanti pada hari kemarin maka aku tak berhak untuk menyalahkan apapun, meski yang aku dapat bukan bahagia bersamamu, ada sesuatu yang lebih telah aku dapatkan dari pengalaman, tentang makna, tentang kecewa dan rasa sakit.
Mungkin, ujung dari penantianku bukanlah dirimu, atau mungkin melepaskanmu adalah awal untuk penantian yang lainnya.
