Surat Untuk Cinta Pertama
Apa kabar?
Harapku tentunya semoga kau selalu baik-baik saja disana, di tengah penyakit yang mewabah ini semoga kau bisa semakin menjaga diri lagi.
Oh iya, usiaku kini mendekati 20 tahun. Dua dekade perjalanan hidup yang lebih dari setengahnya aku lalui tanpa kehadiranmu. Aku tumbuh menjadi sosok gadis yang ceria, mudah berteman dan selalu bersemangat, konon begitulah kata teman-temanku. Meskipun di belakang mereka aku tidaklah lebih dari seorang yang pemurung, mudah bersedih, mudah menangis dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitarku.
Tidak terasa sejak hari pertama kau memutuskan untuk pergi meninggalkan ibu yang hingga hari ini menjelma tulang punggung keluarga kecil yang dahulu begitu kalian impikan, meninggalkan aku yang tadinya tidak pernah mengerti arti sebuah kehilangan hingga akhirnya aku tumbuh dewasa dan menyadari bahwa kehilangan pertama yang aku rasakan adalah dari seseorang yang menjadi cinta pertamaku, yaitu darimu.
Aku tidak pernah peduli seberapa besar kesalahan yang pernah kau perbuat, atau jika dahulu ibu yang membuat kesalahan aku memohon untuk memaafkanya, sebab dia terlalu tulus untuk dibenci seseorang yang pernah menyayangi dan berjuang untuknya.
Aku tidak peduli, seberapa jauh jarak yang kini memisahkan kita, dimana pun kau berada kau tetaplah orangtuaku seperti sedia kala, seperti ketika kau menenangkan tangisku yang mengganggu lelap tidurmu, seperti ketika aku merengek pada ibu, kau adalah orang yang seketika membujuk dan meredakan tingkah cengengku, atau seperti ketika aku terjatuh dari sepeda, kaulah orang pertama yang bergegas membawa dan mengobati lukaku.
Terkadang, menyenangkan rasanya ketika mengingat momen-momen itu, walau tak banyak namun memberiku kesan berharga bahwa aku pernah disayangi dengan begitu sangat. Kadang kala aku juga turut bahagia tatkala melihat seorang anak kecil yang riang gembira bermain dengan kedua orangtuanya, menghabiskan waktu seharian untuk sekadar berkumpul bersama, makan di momen yang sama dan saling mendengarkan cerita dengan penuh canda tawa. Tapi pada sisi yang lainnya, hatiku hancur. Sebab mungkin aku tidak akan pernah memiliki momen seperti itu hingga kapan pun.
Pah, aku iri ketika masa sekolah dulu, saat jam sekolah begitu memakan banyak waktu karena fullday school mulai berlaku. Teman-temanku sangat dikhawatirkan oleh ayah mereka karena menjelang maghrib masih belum pulang ke rumah, sementara aku pulang ke rumah pun tidak bersambut karena ibu yang juga sibuk bekerja dan hampir tidak pernah ada di rumah ketika aku pulang sekolah.
Setelah lulus, ibu menyuruhku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, namun aku menolak karena tak ingin beliau terus kelelahan sebab mencari biaya pendidikan untukku di usianya yang sudah tidak lagi muda. Aku memutuskan untuk bekerja, tentunya dengan tetap menyimpan asa untuk melanjutkan pendidikan ketika nanti sudah memiliki finansial yang cukup.
Pah, ternyata mencari uang itu sulit yah. Apalagi untuk seorang perempuan sepertiku yang begitu lemah. Aku tak dapat membayangkan seberapa lelahnya ibu yang bertahun-tahun mencari biaya hidup untuk kita berdua.
Anak-anak lain seusiaku sedang menikmati waktu di usia menuju kedewasaannya, sedangkan aku harus pergi pagi buta dan tak jarang juga pulang hingga malam begitu larut, mendapati ibu yang sudah lelap dalam tidurnya. Waktuku dengannya semakin sedikit untuk sekadar menceritakan hari-hariku yang begitu penuh penat. Aku, semakin merasa kehilangan.
Pah, sejak kepergianmu sosok kakek benar-benar menjadi pengganti yang begitu tepat karena selalu merangkulku dan mengerti apa yang aku rasakan tanpa aku bercerita sekali pun. Namun tuhan memanggil sosok baik tersebut dalam kehidupanku.
Perlahan aku tumbuh menjadi gadis yang dewasa dengan segala kehilangan dan kepergian yang aku alami, aku tak pernah menyalahkan dirimu yang memutuskan untuk meninggalkanku. Sebab aku mengerti bahwa tidak semua orang beruntung memiliki keluarga yang selalu utuh.
Oh iya pah, beberapa lelaki mulai mendekati untuk menjalin hubungan denganku, seandainya kau selalu ada pasti kau akan tahu dan bisa menilai mana lelaki yang cocok untuk menjadi pendamping hidup kelak anak gadismu ini. Sebab, aku takut jika salah memilih dan menjalin hubungan yang sakral nanti, pasanganku akan pergi meninggalkanku seperti dirimu. Cukup aku saja yang mengalami dan menjalani hidup dengan keluarga yang tak utuh, jangan pernah terjadi lagi pada keturunanku nanti.
Aku tahu, kita tidak bisa memilih ingin dilahirkan dalam keluarga yang seperti apa. Namun, selalu ada pilihan untuk menjaga keluarga selalu utuh.
Semuanya tidak akan seperti sedia kala lagi kan, pah, meskipun kau kembali lagi? Terlalu banyak waktu berlalu yang kita lalui masing-masing sehingga jika kita kembali bersama, kita akan seperti orang asing yang tidak mengenal satu sama lain. Aku hanya bisa mendoakan segala yang terbaik untukmu, kuharap kau pun melakukan hal demikian untuk aku dan ibu.
Sehat selalu ya pah.
