Pengagum Rahasia
“Kau benar-benar pergi, dan terus menjauh.”
— Bila (Raisa)
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku, seolah menjadi pengakuan paling jujur atas apa yang kini terjadi di antara kita. Entah sejak kapan, tapi perlahan aku mulai merasakan kehadiranmu yang tak lagi sama. Kau ada, tapi terasa jauh.
Kau dekat, tapi seperti sengaja menjaga jarak. Terlebih saat kita berada di tengah teman-teman lain yang sedang berkumpul —saat candaan berubah menjadi olokan, dan namamu disebut-sebut seolah menjadi bahan hiburan.— Aku melihat caramu terdiam, caramu mengalihkan pandangan, dan caramu memilih pergi tanpa sepatah kata.
Aku sadar, sepenuhnya sadar, bahwa kita memang tidak akan pernah bisa benar-benar bersatu. Ada batas yang tak bisa kulewati, ada kenyataan yang tak bisa kupungkiri.Namun jujur saja, aku mengagumimu. Dari caramu berdiri, caramu berbicara, hingga sudut pandangmu yang selalu terasa berbeda dari kebanyakan orang. Ada ketenangan sekaligus kedewasaan yang tidak kau pamerkan, tapi justru itu yang membuatku jatuh semakin dalam—tanpa kusadari, tanpa sempat kuhentikan.
Hal-hal kecil yang kau lakukan sering kali menjadi sesuatu yang besar bagiku. Saat kau menemuiku dengan alasan yang sebenarnya sederhana, bahkan sedikit menggelitik, bagimu mungkin itu tak berarti apa-apa. Tapi bagiku, itu adalah momen. Itu adalah bukti kecil bahwa aku ada di ruang hidupmu, meski hanya sebentar. Saat-saat seperti itu membuatku merasa dekat, merasa diperhatikan, dan tanpa sadar menumbuhkan semangat yang tak seharusnya ada.
Namun sejak mereka mulai mengolok-olokmu, sejak namamu dan namaku disandingkan dengan nada bercanda yang berlebihan, aku merasakan perubahan. Kau mulai membatasi diri. Percakapan kita tak lagi mengalir seperti dulu. Pesan-pesanku kau balas dengan jeda waktu yang tak biasa. Ada kehati-hatian dalam caramu bersikap, seolah setiap kata harus disaring agar tak menimbulkan kesalahpahaman baru.
Aku ingat reaksimu saat aku bercanda mengatakan bahwa aku menyukaimu. Kau tertawa canggung, dan aku ikut tertawa. Saat itu aku berpura-pura menganggapnya hanya lelucon, padahal sebenarnya aku memang menyukaimu—sungguh. Tertawaku adalah tameng, agar perasaanku tidak terbaca, agar kenyataan itu tidak terlalu menyakitkan. Aku ingin memperhatikanmu lebih dari yang seharusnya.
Aku ingin menyemangatimu di hari-hari yang berat, ingin memastikan kau tidak melewatkan makan, ingin memberimu cemilan kecil agar harimu terasa sedikit lebih ringan. Aku tahu kau biasanya cuek, seolah dunia bisa berjalan tanpa perlu terlalu kau pedulikan. Kau sering berkata, “Ah, biarin aja, bodo amat.” Tapi kali ini berbeda. Kau tidak melawan, tidak bercanda balik. Kau hanya diam, dengan ekspresi datar, lalu pergi menjauh dari keramaian.
Jika kau membaca ini, sungguh aku malu. Namun aku ingin jujur, setidaknya sekali saja. Aku menyukaimu. Ya, aku sangat menyukaimu. Dan justru karena itu aku memilih diam. Kau telah memiliki seseorang, dan aku tidak mungkin —dan tidak ingin— merusak apa yang sudah kau miliki. Aku tidak ingin menjadi alasan bagi sebuah perpisahan. Aku tidak ingin menjadi orang yang datang membawa luka.
Aku hanya bisa menyukaimu dalam diam, memendam semuanya sendiri. Meski sebenarnya tanda-tandanya mungkin sudah terlihat, hingga akhirnya mereka mengolok-olok kita berdua, terutama dirimu. Itu yang membuatku takut. Aku takut kau merasa tidak nyaman. Aku takut kehadiranku justru menjadi beban.
Sekarang aku benar-benar merasakan jarak itu. Kau tidak pernah lagi menemuiku seperti dulu. Dan aku tak tahu harus berbuat apa. Haruskah aku mengatakannya secara jujur, atau haruskah aku terus memendamnya?
Aku hanya ingin belajar dari kesalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Aku tidak ingin mengulang luka yang sama—baik untukmu, maupun untuk diriku sendiri.
Dan jika pada akhirnya aku harus kehilangan jarak yang dulu terasa hangat itu, mungkin inilah harga dari sebuah perasaan yang tak pernah seharusnya tumbuh.
